Halaman

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG INI

Senin, 18 Maret 2013

Korban `Petrus` 1982-1985 Capai 10 Ribu Orang

 

  Ketua Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM Yosep Adi Prasetyo mengatakan jumlah korban dari peristiwa penembakan misterius tahun 1982 sampai 1985 mencapai 10 ribu orang.

Data tersebut ia kutip dari penelitian David Bourchier yang berjudul "Crime, Law, and State Authority in Indonesia" pada 1990, yang diterjemahkan oleh Arief Budiman. Sedangkan dari pengaduan yang diterima oleh Komnas HAM, jumlah korban mencapai 2.000 orang lebih.

"Jumlah tersebut termasuk orang yang ditemukan meninggal atau hilang. Tidak termasuk yang bisa melarikan diri," kata Yosep, Selasa, 24 Juli 2012.

Menurut penelitian David Bourchier, pelaku pembunuhan bertindak dalam konteks melaksanakan perintah jabatan di bawah koordinasi Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) Republik Indonesia, yang juga berada di bawah komando Presiden Republik Indonesia. Selain pelaku yang memiliki kewenangan, ditemukan pula bukti adanya pelaku individu yang bertindak secara aktif dan disebut sebagai "operator".

Bukti tersebut diperkuat dengan bukti-bukti yang ada di lapangan, misalnya pada tali tambang dan kayu yang digunakan untuk mencekik korban. Menurut Yosep, alat untuk eksekusi tampak sudah dipersiapkan sebelumnya. Kayu pegangan dipotong dengan halus, bahkan diserut. Sedangkan jenis ikatan clove-hitch pada talinya menunjukkan bahwa pelaku adalah orang yang terlatih dan mengerti tali-temali.

"Pola pencekikan dengan tali muncul setelah Menteri Luar Negeri Belanda Van Den Broek menanyakan mengapa banyak orang yang ditemukan meninggal dengan luka tembakan," ujar Yosep. Setelah dibombardir protes, teknik pembunuhan pun berubah dari penembakan menjadi pencekikan dan berbagai cara penghilangan orang.

Peristiwa Petrus juga ditandai dengan berbagai pola yang ditemukan pada tubuh mayat. Misalnya Mister X, julukan untuk orang yang ditemukan tanpa identitas, dalam keadaan tidak bernyawa dengan kedua tangan terikat di belakang. Mayat ditemukan dengan tiga luka tembakan di kepala atau mati karena tercekik.

"Selain itu, biasanya di atas tubuh mayat diletakkan uang Rp 10 ribu untuk biaya penguburan mayat," kata dia.

Selain korban yang ditetapkan sebagai penjahat, korban petrus sering kali juga berasal dari korban salah tangkap. Misalnya petani dan pegawai negeri sipil karena bernama sama.

Kejadian petrus sempat menggegerkan dunia karena tidak terjadi di satu lokasi saja, tapi hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Seperti Jakarta, Yogyakarta, Bantul, Semarang, Medan, Palembang, Magelang, Solo, Cilacap, Malang, dan Mojokerto.

"Tak tertutup kemungkinan juga ada di lokasi lain, seperti di Bandung, Makassar, Pontianak, Banyuwangi, dan Bali," ujar Yosep.

Kamis, 14 Maret 2013

Ditemukan, Jimat dan Mantra Kebal di Jasad Pasukan Sulu

 

Lahad Datu : Meski jumlahnya hanya 235 orang, dengan persenjataan yang minim dibandingkan angkatan bersenjata Malaysia, belum semua pasukan loyalis Sultan Sulu Jamalul Kiram III berhasil dibekuk.
Pasukan yang dipimpin Raja Muda Agimuddin Kiram itu bahkan berkoar "berani mati" untuk merebut Sabah, yang diklaim sebagai warisan nenek moyang. Selain soal keyakinan, diduga mereka nekat karena dilindungi jimat.
Seperti dimuat situs Malaysia, The Star, yang mengutip tabloid Kosmo!, pasukan Sulu diduga memakai bermacam jimat yang membuat mereka sedemikian berani, juga kebal terhadap peluru. Namun tetap saja 54 dari mereka tewas akibat serangan tentara negeri jiran.
Halaman depan Kosmo! memuat headline "Sulu terrorists lose invincible power" -- "Teroris Sulu kehilangan kekuatan  tak kasat mata", yang dilengkapi foto jasad pasukan Sulu memegang benda diduga jimat dan kertas bertuliskan mantra atau rapal.
Juga dilaporkan, jimat yang dilengkapi mantra dan tulisan Jawi -- abjad Arab yang disesuaikan untuk menulis bahasa Melayu -- dikenakan para militan di sekitar pinggang, pergelangan tangan, dan leher. Benda yang jadi jimat beragam bentuk, tapi kebanyakan berwarna hitam yang dibungkus kain hijau.
Tabloid itu juga mengutip seorang sumber yang mengatakan, pasukan Sulu melakukan ritual mandi dan doa, juga mencari perlindungan spiritual, sebelum menginvasi Kampung Tanduo, di Lahad Datu, Sabah.
Sementara, seorang penduduk desa, Badir (42) dari Kampung Tanduo mengatakan, pasukan dari Sulu pernah mengaku punya kekuatan khusus untuk menangkal kejahatan dan melindungi mereka dari mara bahaya.
Masih berkaitan dengan lelaku para prajurit Sulu. Sebelumnya, tak kurang dari  Menteri Pertahanan Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi mengatakan, para loyalis Jamalul Kiram III mencoba melarikan diri pakai ilmu hitam.
"Tak menutup kemungkinan para penyusup Sulu menggunakan ilmu hitam atau memakai obat-obatan untuk melakukan tindakan pengecut itu (melarikan diri)," ungkap Menteri Pertahanan Ahmad Zahid Hamidi, seperti dikutip dari Kantor Berita Malaysia Bernama, Senin (11/3/2013).
Meski demikian, lanjut Zahid, aksi mistis pasukan Sulu itu tak akan membuat militer Malaysia gentar. "Dalam peperangan, semua itu (pemotongan bagian tubuh bak debus, seolah-olah mati) tak berlaku," cetus dia.(Ein)